DENPASAR-Berselang satu minggu dari pengumuman kelulusan peserta UN SMA/sederajat, Sabtu (21/6) hari ini giliran siswa SMP/MTs yang mendapat kepastian lulus tidaknya mereka dalam ujian nasional (UN). Sebelum pengumuman, siang kemarin Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bali, TIA Kusuma Wardhani "membocorkan" hasil UN kepada wartawan. Diungkapkan, dari 49.291 peserta UN SMP/MTs se-Bali, siswa yang dinyatakan lulus sebanyak 48.844 dan 447 peserta diantaranya tidak lulus
Meski angka ketidaklulusan cukup tinggi, namun bila dibandingkan dengan pelaksanaan UN tahun lalu, menurut Kadisdik, masih ada peningkatan peserta lulus sebanyak 0,45 persen.
Jika ditilik dari distribusi kelulusan, kabupaten Karangasem tercatat paling banyak siswanya yang tidak lulus. Di bumi lahar itu, dari 4.937 peserta, 225 siswa diantaranya tidak lulus. Disusul kabupaten Buleleng yang 70 siswanya tidak lulus.
Kota Denpasar juga "menyumbang" siswa terbanyak tak lulus. Tercatat ada 51 siswa tak lulus di Denpasar, diantaranya di SMP Kristen 1 Harapan, SMPK Santo Yoseph, SMP PGRI 5, dan SMP PGRI 2.
Menariknya, rentang nilai tertinggi dan terendah untuk mata pelajaran yang diuji juga tergolong memprihatinkan. Bagaimana tidak, untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA, nilai tertingginya mencapai (10,00) atau sempurna. Bahasa Indonesia nilai tertingginya 9,40. Namun nilai terendahnya untuk Matematika 0,50, Bahasa Inggris 1,80 dan IPA 2,00, dan Bahasa Indonesia 1,80. Yang sedikit melegakan, tidak ada satu sekolah yang siswanya tidak lulus 100 persen sebagaimana tahun lalu.
Menurut Kadisdik, ada banyak siswa yang mengantongi nilai kembar. Dominasinya yakni SMPN 1 Denpasar, SMPN 3 Denpasar, SMPN 1 Tabanan, SMPN 1 Sukawati. Istimewanya, nilai UN tertinggi se-Bali (38,80) hanya dikantongi satu siswa atas nama I Gusti Agung Brihaspaty Bhuana dari SMPN 1 Denpasar.
"Ujian nasional bukan satu-satunya yang menjadi penentu kelulusan siswa," tandas TIA Kusuma Wardhani didampingi Kasubdin Dikmenum Dikmenjur, IGN Widhiarta saat mengumumkan hasil kelulusan.
Lebih lanjut dipaparkan, siswa yang tidak lulus UN tahun ini bisa mengikuti ujian kejar paket B tanggal 1-3 Juli mendatang. Sama seperti siswa SMA yang tak lulus UN, syarat mengikuti ujian kejar paket B dengan memenuhi persyaratan diantaranya mendaftar pada SKB yang ada di masing-masing kabupate/kota, dan mengantongi kartu peserta UN.
Sementara itu hari ini juga diumumkan hasil UN SMP/Madrasah Tsanawiyah, SMALB dan SMPLB. Seperti diungkapkan Kadisdik, tercatat 8 peserta UN SMALB yang lulus semuanya. Kedelapan siswa tersebut, 7 siswa di SLB B PTN Jimbaran, dan 1 siswa di SLB Kemala Bhayangkari Tabanan. Sedangkan untuk jenjang SMPLB, 29 peserta juga dinyatakan lulus semua.(yen)
SUmber : http://www.jawapos.co.id
19 Juni, 2009
Pengumuman Kelulusan Siswa SMP Kota Denpasar
Pengumuman Kelulusan Siswa SMP Kota Denpasar Tahun Pelajaran 2008/2009 rencananya akan disampaikan pada Sabtu, 21 Juni 2009 di sekolah masing-masing. Sementara itu masing-masing sekolah penyelenggara UN akan menerima daftar peserta pada Jumat sore. Kenyataannya tidaka demikian.
Di beberapa sekolah yang dipantau redaksi menunjukkan tidak ada aktivitas yang istimewa pada beberapa SMP di bilangan momang-maning, sementara itu salah seorang guru yang dimintai kete4rangan tetntang hal ini mengatakan,"Besok pagi bapak kepala yang akan mengambbil ke Dinas." selorohnya.
Apakah pengumuman hasil kelulusan siswa SMP dan Madrasah Tsanawiyah di Denpasar khususnya dan Bali pada umumnya akan sama seperti kejadian pengumuman di SMA/MA ? Kita lihat saja
Di beberapa sekolah yang dipantau redaksi menunjukkan tidak ada aktivitas yang istimewa pada beberapa SMP di bilangan momang-maning, sementara itu salah seorang guru yang dimintai kete4rangan tetntang hal ini mengatakan,"Besok pagi bapak kepala yang akan mengambbil ke Dinas." selorohnya.
Apakah pengumuman hasil kelulusan siswa SMP dan Madrasah Tsanawiyah di Denpasar khususnya dan Bali pada umumnya akan sama seperti kejadian pengumuman di SMA/MA ? Kita lihat saja
29 Mei, 2009
PRESIDEN SBY SILATURRAHIM DENGAN WARGA PERSATUAN TARBIYAH ISLAMIYAH
Senin, 25 Mei 2009, 17:07:34 WIB
Cikeas: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono, hari Senin (25/4) sore, bersilaturrahim dengan Jami'ah dan Ulama Persatuan Tarbiyah Islamiyah di pendopo kediaman Puri Cikeas Indah, Bogor Jawa Barat. Silaturrahim ini adalah rangkaian Milad ke-81 dan Rakernas Persatuan Tarbiyah Islamiyah se-Indonesia yang telah berlangsung sejak tanggal 22 sampai 24 Mei 2009. Dalam Rakernas telah disepakati bahwa segenap warga Tarbiyah seluruh Indonesia siap untuk memenangkan pasangan Presiden dan Wakil Presiden RI, yaitu SBY dan Boediono.
Acara dimulai dengan laporan Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Tarbiyah Islamiyah, Basri Bermanda, dilanjutkan dengan pembacaan Ikrar Jami’ah Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Basri Bermanda, mengungkapkan bahwa saat ini diperlukan pemimpin yang santun serta berwawasan luas. "Diperlukan semangat agar kita semua dapat memberikan masukan kepada semua rakyat indonesia bahwa kita ingin melihatkan dan menampilkan seorang presiden yang santun, memiliki wawasan kedepan untuk Indonesia lebih bermartabat," jelasnya.
Menanggapi pernyataan Basri Bermanda, Presiden SBY setuju bahwa politik itu harus dijalankan dengan etika dan tata krama. "Politik tidak berarti boleh menghalalkan segala cara. Politik tidak berarti harus main kasar, harus dengan cara-cara yang tidak berakhlak. Masih banyak cara untuk mencapai tujuan politik yang dilaksanakan secara berbudaya, beradab dan bertika. InsyaAllah, kami akan terus belajar dan menjalankan politik seperti itu, politik yang berbudaya dan politik yang beretika," kata SBY. Usai acara, Presiden SBY dan Ibu Ani beramah-tamah dengan seluruh tamu undangan, foto bersama dan menikmati santap malam bersama di pendopo kediaman pribadi SBY.(mit)
Cikeas: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono, hari Senin (25/4) sore, bersilaturrahim dengan Jami'ah dan Ulama Persatuan Tarbiyah Islamiyah di pendopo kediaman Puri Cikeas Indah, Bogor Jawa Barat. Silaturrahim ini adalah rangkaian Milad ke-81 dan Rakernas Persatuan Tarbiyah Islamiyah se-Indonesia yang telah berlangsung sejak tanggal 22 sampai 24 Mei 2009. Dalam Rakernas telah disepakati bahwa segenap warga Tarbiyah seluruh Indonesia siap untuk memenangkan pasangan Presiden dan Wakil Presiden RI, yaitu SBY dan Boediono.
Acara dimulai dengan laporan Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Tarbiyah Islamiyah, Basri Bermanda, dilanjutkan dengan pembacaan Ikrar Jami’ah Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Basri Bermanda, mengungkapkan bahwa saat ini diperlukan pemimpin yang santun serta berwawasan luas. "Diperlukan semangat agar kita semua dapat memberikan masukan kepada semua rakyat indonesia bahwa kita ingin melihatkan dan menampilkan seorang presiden yang santun, memiliki wawasan kedepan untuk Indonesia lebih bermartabat," jelasnya.
Menanggapi pernyataan Basri Bermanda, Presiden SBY setuju bahwa politik itu harus dijalankan dengan etika dan tata krama. "Politik tidak berarti boleh menghalalkan segala cara. Politik tidak berarti harus main kasar, harus dengan cara-cara yang tidak berakhlak. Masih banyak cara untuk mencapai tujuan politik yang dilaksanakan secara berbudaya, beradab dan bertika. InsyaAllah, kami akan terus belajar dan menjalankan politik seperti itu, politik yang berbudaya dan politik yang beretika," kata SBY. Usai acara, Presiden SBY dan Ibu Ani beramah-tamah dengan seluruh tamu undangan, foto bersama dan menikmati santap malam bersama di pendopo kediaman pribadi SBY.(mit)
PERSATUAN TARBIYAH ISLAMIYAH MILAD KE 81
Bertempat di komplek Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) provinsi DKI Jakarta, pada Sabtu 23 Mei 2009, tidak kurang 1.500 peserta Rakernas Lembaga Pendidikan yang dirangkaikan dengan Milad ke-81 Persatuan Tarbiyah Islamiyah memenuhi ruang pertemuan yang dibuka oleh Menteri Sekretaris Negara,Ir.H.Moh.Hattarajasa. Peserta yang hadir merupakan para ulama, cendikiawan muslim,para kepala pondok pesantren, madrasah, dan sekolah yang ada di bawah naungan ormas dimaksud dari 30 provinsi yang ada di Indonesia.
Persatuan Tarbiyah Islamiyah yang diketuai oleh Buya KH.Basri Barmanda merupakan organisasi sosial yang bergerak dibidang pendidikan, dakwah dan sosial kemasyarakatan yang lahir 81 tahun silam di Sumatera Barat.
Dalam rangkaian miladnya juga diselenggarakan rakernas pendidikan yang pertama. Ada beberapa hal yang mendasari mengapa hal ini harus dilaksanakan, ya, karena ormas ini adalah bergerak di bidang pendidikan tentu nuansa pendidikan adalah nafas juangnya. Selain itu Persatuan Tarbiyah sejak 81 tahun silam telah terinspirasi pada basis juangnya yang mengedepankan pendidikan yang diprakarsai oleh para ulama dan para kyai pemimpin pondok pesantren, serta keinginan yang kuat untuk melepaskan diri dari kungkungan kekuatan partai politik. Bertolak dari pemikiran tersebut,Tarbiyah pada era ini diharapkan tidak menjadi pendukung salah satu partai, apalagi membuat partai sendiri,dan kini kembali ke khitahnya, sebagai ormas pendidikan, dakwah dan sosial ekonomi.
Mukernas yang dijadualkan berlangsung dari 22-25 Mei 2009, agenda yang sempat di-intip oleh redaksi antara lain di isi dengan ceramah dan pengarahan mentri sekretaris negara, menko kesra, menteri sosial, menteri agama, menteri dalam negeri,mendiknas, Kepala BPN, Drs.H.Firdaus, MPd.(Dirjen Pendais) dan KH.Drs.Kurdi Mustofa (staf khusus Presiden SBY)
Acara diakhiri dengan kunjungan/silaturrahim ke kediaman Presiden RI DR.H.Susilo Bambang Yudoyono di Puri Cikeas Bogor pada 25 Mei 2009.
Pada kesempatan ini redaksi berkesempatan menjadi salah seorang dari lima peserta utusan provinsi Bali ; Drs. H. Muhsan Effendi (ketua umum Tarbiyah Daerah Bali), Wayan Moh.Natsir, SPd.I (sekretaris yang juga sebagai GPAI pada SD Universal School, SMP Santo Yoseph Denpasar, dan LP3I Bali), Drs.H.Sujono (pengurus Tarbiyah dan kepala MTs Al-Hidayah Candikuning Tabanan), H.Yasril Kelana (unsur ulama) dan Rahmat (pemuda Tarbiyah, semoga gerak juang dan cita-cita Tarbiyah sebagai lembaga pendidikan dapat terlaksana dalam mencerdaskan kehidupan bangsa ke depan. Amin
03 April, 2009
Kontingen Denpasar Juara Umum

Semarapura, 30 Maret 2009 ; Yel-yel kegembiraan mengiringi kemenangan kontingen kota Denpasar dalam Jambore Pendais I, tingkat SMP se-provinsi Bali di kabupaten serombotan Semarapura Klungkung Bali yang diselenggarakan oleh Kependais kanwil Departemen Agama prov. Bali sejak 28 sampai 30 Maret 2009 lalu. Dari tujuh katagori kegiatan yang dilombakan (tartil Qur'an, pidato, karaoke islami, kaligrafi, olimpiade PAI, cerdas cermat dan tadabur alam) Denpasar menyabet 6 piala yang terdiri atas : tartil Qur'an, pidato, dan tadabur alam masing-masing juara satu. Sementara untuk katagori cerdas cermat dan karaoke lagu islami masing-masing sebagai juara kedua. Piala ke-enam disumbangkan dari lomba olimpiade PAI sebagai juara ke-tiga. Kasi Kependais dan Pemberdayaan masjid kota Denpasar, Drs.H. Sunarto, MPd.I menyambut gembira atas prestasi yang diraihnya ini. Dengan demikian kota Denpasar berhasil mengawinkan dua juara umum sekaligus, antara SMP dan SMA yang juga digelar pada pertengan Maret di Karangasem.
Kontingen kota Denpasar didampingi oleh empat pembina antara lain : Drs. Supardi, Wayan M. Natsir, SPd.I, Wayan Syahdan, Spd.I dan Nur Sa'adah,Spd.I.
22 Maret, 2009
MUSMADIN V KOTA DENPASAR
Musabaqah Siswa Madrasah Diniyah ( MUSMADIN) V, se kota Denpasar pada 22 Maret 2009 berlangsung cukup meriah. Tidak kurang 3.000 orang masyarakat muslim kota Denpasar sejak pk. 07.30 telah memadati komplek yayasan Baitul Makmur di bilangan Monang Maning Denpasar Barat. Berita selengkapnya sedang dalam proses editing redaksi,
mohon kesabaran Pembaca terhormat...
mohon kesabaran Pembaca terhormat...
18 Maret, 2009
Guru Agama Se-NTB Ngelurug Ke Jakarta
Jakarta, sumbawanews.com.- Komunitas Guru Pendidikan Agama Islam se-NTB yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (MGMP PAI) datang khusus ke Jakarta minggu ini selama 5 (hari), 9-13/03/ 2009. Komunitas MGMP ini langsung diwakili oleh ketua MGMP wilayah NTB serta koordinator MGMP Kabupaten-Kota se-NTB.
Menurut Koordinator MGMP PAI wilayah Sumbawa Besar, Jufriadi, S.Ag, M.Pd, bahwa kedatangan mereka ke Jakarta untuk meminta kejelasan nasib bagi guru yang sudah disertifikasi namun belum mendapat kompensasi terhitung Februari 2008 hingga saat ini. Selain itu, menurut guru Pendidikan Agama Islam SMU 3 Sumbawa ini-MGMP juga meminta kejelasan bagi guru Agama umum yang belum disertifikasi. "Kami melihat ada perbedaan perlakuan antara pegawai Departemen Agama dan Dedpdiknas. Kalau pegawai Depdiknas telah menerima kompensasi bagi yang telah lulus sertifikasi. Di lapangan tak jarang kami menemukan saling ejek antara pegawai Depdiknas dan Pegawai Depag. Hal ini tentu menimbulkan kecemburuan", ujar alumni IAIN Mataram ini.
Jufri menambahkan bahwa MGMP Sumbawa khususnya telah beberapa kali menyampaikan hal ini ke Depag Sumbawa. Namun di Sumbawa juga masalah ini diserahkan ke Kanwil Depag NTB. Sementara di provinsi juga menyerahkan ke pusat. "Setelah kami meneliti lebih jauh hingga pusat, nampaknya ada keselahan dalam perencanaan kepegawaian di Depag", ujar Bapak yang biasa disapa Pak Jup ini.
Jufriadi dalam penjelasannya mengungkapkan bahwa selama di Jakarta, tim MGMP telah bertemu langsung dengan Dirjen Pendidikan Agama Islam, Imam Tolhah. Menurut Dirjen, bahwa masalah sertifikasi sudah hampir rampung, dan persoalan kompenmsasi bagi guru yang telah lulus sertifikasi akan diselesaikan sebelum pelaksanaan Pemilu 2009. Keputusan ini diambil setelah melewati rapat terbatas di Kantor Dirjen PAI dengan menghadirkan Menteri Keuangan, Menpan, Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN).
Jufri mengungkapkan bahwa Dirjen PAI juga mengemukakan alasan tersendatnya pencairan kompensasi sertifikasi karena terkait dengan payung hukum. Saat ini seluruh pembayaran guru yang telah melalui sertifikasi baik yang ada Depdiknas maupun yang berada di lingkungan Depag akan dibayar dengan Keputusan Presiden sebagai sumber payung hukum. Sebagai hasilnya, semua pegawai di kedua institusi tersebut akan menerima haknya secara bersamaan, tambah Jufriadi mengutip kalimat Dirjen PAI.
Pungutan Liar
Ketika media ini menanyakan kenapa para pentolan MGP datang ke Jakarta, Jupriadi mengungkapkan dengan nada kesal, "kami di daerah sudah cukup sabar berurusan dengan biroraksi. Tiap kali berurusan harus menyiapkan satu-dua rupiah, baik dari ijin, surat tugas, dan berbagai dokumen lain yang berhubungan dengan Depag. kami tidak dapat membayangkan akan berapa rupiah lagi akan menghabiskan di "rumah sendiri" untuk menuntut hak dan memperjelas posisi. Kami sudah bosan dengan berbagai pungutan liar yang tidak jelas ujungnya.
Ketika MGMP tiba di Depag Jakarta. kami disambut dengan baik dan pelayanan yang memuaskan, sementara di daerah-pelayanannya carut-marut", ungkap guru Agama ini dengan nada tinggi. Menutup pembicaraannya, Jupriadi menimpali "Kami rela datang ke Jakarta tanpa bantuan siapapun, kalau kemarin kami datang dengan pesawat, besok kami pulang dengan bis, juga tak masalah, asalkan urusan ini dapat diselesaikan dengan baik". (sn04) ; Syahrul Salam
Menurut Koordinator MGMP PAI wilayah Sumbawa Besar, Jufriadi, S.Ag, M.Pd, bahwa kedatangan mereka ke Jakarta untuk meminta kejelasan nasib bagi guru yang sudah disertifikasi namun belum mendapat kompensasi terhitung Februari 2008 hingga saat ini. Selain itu, menurut guru Pendidikan Agama Islam SMU 3 Sumbawa ini-MGMP juga meminta kejelasan bagi guru Agama umum yang belum disertifikasi. "Kami melihat ada perbedaan perlakuan antara pegawai Departemen Agama dan Dedpdiknas. Kalau pegawai Depdiknas telah menerima kompensasi bagi yang telah lulus sertifikasi. Di lapangan tak jarang kami menemukan saling ejek antara pegawai Depdiknas dan Pegawai Depag. Hal ini tentu menimbulkan kecemburuan", ujar alumni IAIN Mataram ini.
Jufri menambahkan bahwa MGMP Sumbawa khususnya telah beberapa kali menyampaikan hal ini ke Depag Sumbawa. Namun di Sumbawa juga masalah ini diserahkan ke Kanwil Depag NTB. Sementara di provinsi juga menyerahkan ke pusat. "Setelah kami meneliti lebih jauh hingga pusat, nampaknya ada keselahan dalam perencanaan kepegawaian di Depag", ujar Bapak yang biasa disapa Pak Jup ini.
Jufriadi dalam penjelasannya mengungkapkan bahwa selama di Jakarta, tim MGMP telah bertemu langsung dengan Dirjen Pendidikan Agama Islam, Imam Tolhah. Menurut Dirjen, bahwa masalah sertifikasi sudah hampir rampung, dan persoalan kompenmsasi bagi guru yang telah lulus sertifikasi akan diselesaikan sebelum pelaksanaan Pemilu 2009. Keputusan ini diambil setelah melewati rapat terbatas di Kantor Dirjen PAI dengan menghadirkan Menteri Keuangan, Menpan, Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN).
Jufri mengungkapkan bahwa Dirjen PAI juga mengemukakan alasan tersendatnya pencairan kompensasi sertifikasi karena terkait dengan payung hukum. Saat ini seluruh pembayaran guru yang telah melalui sertifikasi baik yang ada Depdiknas maupun yang berada di lingkungan Depag akan dibayar dengan Keputusan Presiden sebagai sumber payung hukum. Sebagai hasilnya, semua pegawai di kedua institusi tersebut akan menerima haknya secara bersamaan, tambah Jufriadi mengutip kalimat Dirjen PAI.
Pungutan Liar
Ketika media ini menanyakan kenapa para pentolan MGP datang ke Jakarta, Jupriadi mengungkapkan dengan nada kesal, "kami di daerah sudah cukup sabar berurusan dengan biroraksi. Tiap kali berurusan harus menyiapkan satu-dua rupiah, baik dari ijin, surat tugas, dan berbagai dokumen lain yang berhubungan dengan Depag. kami tidak dapat membayangkan akan berapa rupiah lagi akan menghabiskan di "rumah sendiri" untuk menuntut hak dan memperjelas posisi. Kami sudah bosan dengan berbagai pungutan liar yang tidak jelas ujungnya.
Ketika MGMP tiba di Depag Jakarta. kami disambut dengan baik dan pelayanan yang memuaskan, sementara di daerah-pelayanannya carut-marut", ungkap guru Agama ini dengan nada tinggi. Menutup pembicaraannya, Jupriadi menimpali "Kami rela datang ke Jakarta tanpa bantuan siapapun, kalau kemarin kami datang dengan pesawat, besok kami pulang dengan bis, juga tak masalah, asalkan urusan ini dapat diselesaikan dengan baik". (sn04) ; Syahrul Salam
Langganan:
Postingan (Atom)